PENERJEMAHAN MESIN
Seperti yang telah kita ketahui, penerjemahan mesin adalah penggunaan komputer dalam menerjemahkan teks dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Penerjemahan dengan cara ini memiliki kelebihan antara lain kepraktisan penggunaannya, hasil yang cepat, dan rendahnya biaya yang diperlukan.
Bandingkan dengan jasa penerjemah manusia yang disamping belum tentu tersedia setiap saat, juga perlu waktu untuk memproduksi hasil terjemahan dan juga biaya yang tinggi. Karena itu tidaklah mengejutkan jika saat ini penerjemahan mesin banyak sekali dipakai orang dan telah menjadi suatu kebutuhan. Sepertinya mesin penerjemah sedang perlahan-lahan menggeser profesi penerjemah manusia. Tidak heran para penerjemah profesional mulai merasa khawatir dengan keberadaan mesin canggih ini, yang bisa memunculkan hasil terjemahan dalam hitungan detik dan juga dalam beragam bahasa. Meskipun hasil terjemahan komputer masih banyak kekurangannya, teknologi memiliki kecenderungan untuk berkembang dan menjadi lebih baik.
Apakah kekhawatiran para penerjemah beralasan? Benarkah suatu hari nanti seluruh pekerjaan terjemahan akan dapat diambil alih dan diselesaikan oleh mesin? Lihat saja sekarang, pekerjaan teller bank telah dapat diganti oleh mesin ATM, kasir oleh pemindai, bahkan telah tersedia peranti lunak yang siap menggantikan profesi pimpinan tingkat menengah (mid-level managers).
Saya yakin jawabannya tidak. Untuk pekerjaan yang hampir murni mekanis seperti penghitungan dan pembayaran barang belanjaan, mesin kasir tentu cukup dapat melakukannya dengan baik. Namun, profesi akuntan tidak akan dapat begitu saja digantikan dengan mesin. Begitu juga, penerjemah manusia tidak akan pernah dapat sepenuhnya digantikan dengan komputer. Disini, saya akan coba merangkum beberapa kelebihan penerjemah manusia yang rasanya mustahil untuk dapat ditiru oleh sebuah mesin.
Pemahaman akan konteks situasi
Sebuah kata atau kalimat bisa memiliki arti yang lain dalam situasi yang berbeda.
Pemahaman akan makna
Makna tidak hanya berasal dari kata-kata, tapi juga dari banyak faktor lainnya seperti lingkungan sosial-budaya, nada/cara penyampaian, hubungan antara komunikan dan audiens, dll.
Rasa berbahasa
Manusia dapat menangkap suasana dan nuansa suatu teks untuk kemudian menerjemahkannya dengan gaya berbahasa yang sesuai. Dalam menerjemahkan karya sastra misalnya, penerjemah tidak hanya menyampaikan pesan namun ia juga dituntut untuk mampu menerjemahkannya dalam gaya berbahasa yang indah dan sesuai.
Kreativitas
Karena cara kerja mesin yang mekanis, hasil terjemahan pun seragam dan cenderung terdengar kaku.
Contoh-contoh di atas memberikan peneguhan; para penerjemah tidak perlu takut profesinya diambil alih oleh komputer. Sekali lagi, mesin hanya dapat memproduksi arti dari bahasa asal ke bahasa target. Ia dapat menerjemahkan kata-kata namun tidak dapat menerjemahkan makna. Sementara dalam penerjemahan kita mutlak harus mengerti makna, bukan hanya arti dari kata-kata saja. Machines can never overcome true manpower.
Jadi, penerjemahan mesin bukanlah suatu ancaman. Penerjemahan mesin harus dipandang sebagai sebuah alat yang berguna yang dapat memudahkan penerjemah dalam mengerjakan terjemahan dalam jumlah besar, yang bersifat monoton dan teknikal, dan tentunya hasil terjemahan perlu dibaca dan disunting Jika digunakan sesuai dengan proporsinya, mesin penerjemah dapat menjadi penolong yang sangat berharga bagi penerjemah profesional untuk menyingkat waktu, menghemat biaya dan mendapatkan masukan tentang variasi pilihan kata dan frasa dalam bahasa target.
TRANSKRIPSI MUDAH DAN GRATIS
Bagi Anda yang mengkhususkan diri di bidang transkripsi dan penerjemahan file audio dan video, tentunya selain kemampuan mendengarkan dan menerjemahkan yang bagus, Anda juga membutuhkan peralatan dan software berkualitas dan terjangkau untuk mempermudah proses transkripsi dan penerjemahan tersebut.
Ada berbagai software transkripsi file audio dan video yang cukup dikenal luas di pasaran. Sebagian ada yang harganya selangit dengan fitur yang rumit dan ada pula yang harganya pas di kantong dengan fitur yang memang tidak terlalu banyak namun memadai untuk mengerjakan file audio / video standar. Ada pula versi gratisan yang fiturnya cukup terbatas. Salah satunya yang dapat Anda unduh di Internet adalah Express Scribe keluaran NCH Software. Anda dapat mengunduhnya dengan mengklik di sini.
Setelah mengunduhnya, Anda disarankan untuk melakukan pengaturan di menu “Options” sesuai dengan kebutuhan transkripsi Anda. Untuk menyesuaikan kecepatan playback file audio / video, Anda dapat pergi ke menu “Playback” dan menyetel kecepatan playback serta rewind and fast forward yang dinyatakan dalam persentase (%). Jika Anda memiliki pedal kaki, Anda dapat pun dapat mengaturnya dengan fasilitas “Controller Setup Wizard”. Adapun “hot keys” yang dapat Anda gunakan adalah F3 untuk memutar file audio / video dengan kecepatan tinggi, F4 untuk menghentikan pemutaran file, F5 untuk membuka Express Scribe, F6 untuk memperkecil jendela Express Scribe, F7 untuk memutar ulang (rewind), F8 untuk mempercepat pemutaran, F9 untuk memutar file, F10 untuk memutar file dengan kecepatan sebenarnya, F11 untuk memutar file dengan kecepatan lambat.
Sebagai langkah awal, Anda dapat memuat file audio / video dengan mengklik “File” > “Load Dictation File(s) atau memuat Audio CD track (apabila dalam bentuk kepingan CD) dengan mengklik “File” > “Load Audio CD track(s)”.
Setelah dimuat, kini Anda dapat mulai mengerjakan file audio / video tersebut dengan mengetik transkripsinya di kolom kosong yang tersedia di antarmuka Express Scribe atau di file software pengolah kata (default: MS Word). Hasilnya dapat Anda simpan dalam file MS Word.
Setelah transkripsinya lengkap, Anda dapat menerjemahkannya dengan CAT Tool pilihan Anda atau cukup menggunakan software pengolah kata biasa saja.
Akhir kata, semoga uraian singkat di atas dapat mempermudah kehidupan Anda sebagai seorang transcriber professional.
Penggunaan kalimat pasif
Kesalahan tata bahasa di media televisi memang sering sekali terjadi dan paling banyak terjadi saat liputan langsung atau berita kilat. Biasanya si reporter (apalagi yang masih pemula) akan terlihat kebingungan menyusun kata untuk menyampaikan beritanya, apalagi jika waktu tayangnya dipanjang-panjangkan. Kalau sudah begini, akan keluar segala macam kesalahan tata bahasa dan penyusunan kata yang kadang-kadang menggelikan.
Tebakan saya sih, tidak ada mekanisme umpan balik yang memadai, misalnya rekaman tayangannya diputar kembali, lalu kesalahan-kesalahan itu dibahas untuk diperbaiki bersama editor/ahli yang khusus ditunjuk, apakah cara seperti itu bisa dijalankan di televisi?
Dengan istilah "lebih sering" di televisi berarti di media cetak juga terjadi, apalagi kualifikasi penggarap media cetak juga beragam. Ada yang bagus, biasa-biasa, dan ada juga yang rendah. Mengapa kesalahan kalimat di televisi lebih sering, karena deadline mereka sangat ketat sehingga sangat mungkin tak cukup waktu untuk mengedit. Dan, bila si reporter (pemula) harus bicara langsung di layar, menyusun kalimat yang baik adalah tantangan yang tidak mudah. Dulu saya berteman dekat dengan seorang reporter televisi swasta nasional, waktu saya bertugas di Jakarta 1995-1997, jadi bisa tahu tantangan yang mereka hadapi. Pergulatan antara kemacetan dan jadwal tayang berita misalnya. Pernah terjadi ada berita penting yang dimasukkan saat anchor sudah masuk ke ruang siaran dan tayangan berita secara langsung sudah dimulai pukul 15.00 sore. Gambar diedit dan naskah disusulkan ke ruang siar. Begitulah, tantangan yang dihadapi reporter televisi. Satu hal lagi, ada perbedaan pengelolaan kebahasaan di media cetak dan televisi. Di televisi, berita dibacakan atau disampaikan oleh anchor atau reporter dan pemirsa hanya mendengarkan sedangkan di media cetak bahasa langsung dibaca oleh konsumen atau pembaca. Dengan demikian, pengelola media cetak punya tantangan atau tuntutan lebih besar untuk menyajikan bahasa secara lebih baik, walaupun tentu saja kualitasnya beragam sesuai dengan kapasitas pengelolanya. Saya beberapa kali juga menemukan penggunaan bentuk aktif yang salah di media tulis. Ada satu contoh yang sekarang tampaknya bertambah umum. "Dalam penggerebegan itu menangkap seorang bandar ekstasi" Perbaikan kalimat ini: (1) Jadikan kalimat ini kalimat pasif. (2) Tambahkan subjek. Mungkin kalimat itu jalannya: ... polisi ...dalam penggerebegan itu menangkap seorang .. (Ibu tidak mendengar ... polisi ... nya). Kalau subjeknya sudah diketahui dan dianggap tidak perlu diulang, boleh saja subjek itu tidak dipakai namun untuk itu bentuk kalimat yang benar adalah kalimat pasif: Dalam penggerebegan itu seorang bandar ekstasi ditangkap. Atau, jika kenyataan ada yang ditangkap yang ingin ditekankan, maka yang ditekankan itu dapat diletakkan dimuka: Dalam penggerebegan itu DITANGKAP seorang bandar ekstasi. Kalimat ini masuk dalam kategori kalimat tanpa subjek (kesalahan yang sering dibuat). Dalam penggerebegan itu /polisi/ menangkap seorang ... Saya pikir mestinya juga "ditangkap", bukan "menangkap". Sepertinya memang penggunaan bahasa Indonesia di media massa kadang (atau sering ya?) tidak efektif dan keliru.
Ketidaksiapan jasa penerjemah lisan
Kita tidak dapat begitu saja menghakimi sang penerjemah lisan. Ada berbagai aspek yang perlu dipertimbangkan:
(1) Apakah penyelenggara beranggapan bahwa penjurubahasaan itu pekerjaan yang sedemikian mudahnya sehingga siapa saja asal fasih dalam dua bahasa (misalnya Inggris Indonesia) pasti dapat dicomot untuk dijadikan penerjemah lisan? Apakah penyelenggara ingin menghemat biaya sehingga menggunakan penerjemah lisan dengan kemampuan pas-pasan? Atau, apakah penerjemah lisan yang digunakan adalah kenalan, sahabat dekat, keponakan, atau saudara dari sang penyelenggara?
(2) Apakah penerjemah lisannya memang tidak siap? Tidak siap di sini dapat berarti tidak siap dari segi kemampuan maupun dari segi kesehatan. Bisa saja penerjemah lisan tersebut sebenarnya mampu tetapi kesehatannya membuatnya ia menjadi tidak mampu.
(3) Apakah ada keterlibatan unsur emosi di sini? Ingat, bahwa topiknya menyangkut konflik agama dan etnis. Mungkin apa yang dibicarakan membuat penerjemah lisan yang bersangkutan merasa tidak nyaman, gerah, atau marah dan tertekan sehingga hal ini mempengaruhi kinerjanya. Emosi yang tiba-tiba menjadi labil tentu akan sangat mempengaruhi kinerja penerjemah lisan karena bagaimana pun juga, penerjemah lisan adalah juga manusia biasa.
(4) Apakah reaksi berlebihan? Jika ia mengatakan penerjemah lisan tersebut salah, ia harus dapat membuktikan di mana letak kesalahannya.
(5) Mungkin ada hal-hal lain yang tidak kita ketahui yang sesungguhnya terjadi di balik layar sehingga mengakibatkan terjadinya peristiwa tersebut.
Janganlah gegabah menuduh, menyimpulkan, menghakimi atau menyalahkan sebelum mengetahui dan menganalisa fakta dan apa yang sesungguhnya terjadi. Sepertinya kita harus lihat "the overal picture", apakah karena jurubahasanya "under-qualified"-->pertanyaan berikutnya: how come? Yang sewa intepreter siapa? Apakah penyewa ngerti spek yg diperlukan atau jgn2 mereka juga penganut "now everyone can...(Be an penerjemah lisan) :) kemungkinan kedua: si pejabatnya yang lebay, we all know lah cem mana gaya bicara pejabat pemerintah :) :). Kalo masalahnya yang kedua, bahkan Thor of Asgard pun nggak akan bisa apa-apa. Mungkin di sini ada rekan yang hadir di sana? Atau mungkin kenal penyewa?
RINGKASAN, SADURAN, TRANSKRIPSI
RINGKASAN, SADURAN, TRANSKRIPSI by anindyatrans1@gmail.com
Terkadang kita sulit untuk memahami ide sebuah tulisan yang panjang dan tidak jarang juga kita kemudian membuat ringkasan dari sebuah tulisan tersebut untuk membantu memahami ide-ide dari si penulis. Hal serupa juga dilakukan manakala kita ingin menyalin tulisan dalam bahasa lain atau karya tulis tertentu yang inti tulisannya ingin kita ketahui. Cara menyadur bisa menjadi sebuah alternatif.
Meringkas, menyadur, dan mentranskrip memang memiliki kesamaan. Ketiganya masih berpatokan pada ide orang lain. Meski demikian, dalam hal mentranskrip, ada sedikit perbedaan. Kegiatan mentranskrip lebih kepada penyalinan bentuk lisan ke bentuk tulisan. Lebih jauh lagi tentang ketiga hal ini, diuraikan dalam tiga butir berikut ini.
Meringkas
Menyajikan sebuah tulisan dari seorang pengarang ke dalam sebuah sajian tulisan yang ringkas bukan hal yang mudah. Kita harus membaca dengan cermat dan memerhatikan ketika kita harus menuliskannya secara ringkas. Hal ini berkaitan dengan upaya kita untuk menangkap gagasan atau ide dari pengarang. Langkah meringkas bisa kita pakai untuk mengetahui maksud dan tujuan pengarang juga dalam rangka menyajikan sebuah tulisan ke dalam bentuk yang ringkas, padat, dan tetap berpatokan pada ide asli pengarang. Dalam hal ini, yang harus kita perhatikan dalam membuat sebuah ringkasan adalah mempertahankan urutan asli dari ide asli pengarang. Akan tetapi, jangan kita mencampuradukkan pengertian tersebut ketika kita akan membuat sebuah ikhtisar. Patokan akan kedua hal tersebut ada perbedaannya. Dalam membuat ikhtisar, kita tidak perlu mempertahankan urutan karangan asli dan tidak perlu memberikan isi dari seluruh karangan itu secara proposional (Keraf 1984: 262). Berikut akan kita bahas tentang batasan arti ringkasan. Ringkasan diartikan sebagai penyajian singkat dari suatu karangan asli tetapi tetap mempertahankan urutan isi dan sudut pandang pengarang asli. Sedangkan perbandingan bagian atau bab dari karangan asli secara proposional tetap dipertahankan dalam bentuknya yang singkat itu (Keraf 1984: 262). Dengan kata lain, ringkasan adalah suatu cara yang efektif untuk menyajikan suatu karangan yang panjang dalam bentuk singkat. Lalu apa tujuan dari meringkas tersebut? Gorys Keraf mengemukakan bahwa membuat ringkasan dapat berguna untuk mengembangkan ekspresi serta penghematan kata. Latihan membuat ringkasan, menurut dia, akan mempertajam daya kreasi dan konsentrasi si penulis ringkasan tersebut. Penulis ringkasan dapat memahami dan mengetahui dengan mudah isi karangan aslinya, baik dalam penyusunan karangan, cara penyampaian gagasannya dalam bahasa dan susunan yang baik, cara pemecahan suatu masalah, dan lain sebagainya. Beberapa bentuk ringkasan di antaranya dapat berupa abstrak, sinopsis, dan simpulan. Dalam sebuah karya ilmiah (skripsi, laporan akhir, tesis, maupun desertasi), sebuah proses meringkas biasa disebut juga dengan abstrak (Widyamartana dan Sudiati 1997: 52). Abstrak atau ringkasan berdasarkan penjelasan Harianto GP (2000: 227) dimaksudkan sebagai memberikan uraian yang sesingkat-singkatnya tentang segala pokok yang dibahas. Ringkasan dalam sebuah karya ilmiah hendaknya meliputi dasar masalah, asumsi dasar, hipotesa, metodologi, data, sumber-sumber pengolahan, kesimpulan, dan saran-saran.
Ringkasan dalam bentuk sinopsis biasa dilakukan pada buku seperti karya fiksi atau nonfiksi. Bentuk sinopsis merupakan salah satu bentuk ringkas suatu karya yang kiranya dapat memberikan dorongan kepada orang lain untuk membaca secara utuh (Djuharie dan Suherli 2001: 12).
Sementara bentuk ringkasan yang lain adalah simpulan. Simpulan adalah bentuk ringkas yang mengungkapkan gagasan utama dari suatu uraian atau pembicaraan dengan memberikan penekanan pada ide sentral serta penyelesaian dari permasalahan yang diungkapkan (Djuharie dan Suherli 2001: 13).
Menyadur
Sebenarnya, "menyadur" itu lain dengan menerjemahkan/ mengalih bahasakan . Istilah yang sekarang lebih umum digunakan adalah "adaptasi." Yang paling lazim, adaptasi dilakukan antar dua bidang seni, misalnya film yang ceritanya mengadaptasi sebuah novel. Dalam bidang sastra, bisa juga sebuah karya mengadaptasi sebuah cerita rakyat.
Adaptasi prinsipnya adalah mengambil bahan pokok untuk dikembangkan. Detail ceritanya bisa sama sekali baru, bahasa ungkapnya juga harus lain. Jadi, cerita-cerita silat dari Hongkong dan Taiwan yang beredar dalam bahasa indonesia sama sekali tak bisa disebut adaptasi atau menyadur. Karena tak ada pengembangan cerita ataupun memakai bahasa ungkap yang sama sekali baru.
Mereka tetaplah karya tejemahan. Istilah saduran yang sering ditempel di cover hanyalah sekedar akal-akalan agar terhindar dari gugatan hak cipta. Kembali ke istilah "menyadur", definisi resminya adalah: "menyusun kembali cerita secara bebas, tanpa merusak garis besar cerita, biasanya dari bahasa lain" (KBBI Edisi-II, Cetakan Ke-9, 1997, halaman 859).
Apakah menyusun kembali hanya sekedar membolak balik susunan kalimat atau susunan peristiwa? Atau sekedar mengedit, mengurangi dan menambah? Kalau hanya itu, baru pantas kita sebut terjemahan bebas!
Menyadur harus lebih dari itu. Harus ada sesuatu yang baru diluar cerita asli, "Tanpa merusak garis besar cerita". Pengembangan cerita tak berarti megubah garis besar cerita, misalnya kita tahu cerita garis besar cerita Sampek Engtai, tapi adegan pertemuan dan perpisahan mereka, detail percakapan mereka, bisa saja kita kembangkan sendiri.
Mentranskrip
Saat kita mendengar kata transkrip, pemahaman kita tentu akan mengacu pada penyalinan sebuah bentuk lisan ke dalam bentuk tulisan. Transkripsi menurut definisi Harimukti Kridalaksana adalah pengubahan wicara menjadi bentuk tertulis; biasanya dengan menggambarkan tiap bunyi atau fonem dengan satu lambang (2001: 219). Hal ini sesuai dengan pandangan J.S. Badudu bahwa terjadi sebuah penyalinan teks dengan huruf lain untuk menunjukkan lafal, fonem-fonem bahasa yang bersangkutan (2005: 351). Transkrip dalam hal ini sangat berguna, khususnya sewaktu kita akan membuat salinan, catatan dari sebuah pembicaraan ke dalam bentuk tertulis.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, transkrip artinya salinan. Mentranskrip berarti menyalin. Apa saja yang bisa disalin? Tentu bisa apa saja. Tetapi yang dimaksud transkrip pada tulisan ini adalah menyalin atau mentranskrip audio/video (suara/suara bergambar) kedalam bentuk teks tertulis.
Audio disini adalah rekaman/suara yang terdokumentasikan dalam bentuk kaset/mini kaset maupun digital voice clip/sound clip dan video clip. Apa isi rekaman itu? Bisa hasil wawancara, diskusi, seminar, focus group discussion, pelatihan, pidato, sidang, film, video pendidikan, video pelatihan, video tutorial dan sebagainya. Direkam menggunakan alat perekam berupa cassette recorder, voice recorder atau video recorder dan tersimpan dalam kaset maupun format digital voice/sound clip dan video clip tersebut.
Hasil transkrip biasanya berbentuk teks tertulis yang berupa tulisan isi rekaman. Hasil transkrip ini bisa bermacam-macam. Ada hasil transkrip yang betul betul ‘apa adanya’ artinya kata perkata ditulis bahkan situasi yang terjadi ditulis juga untuk menggambarkan situasi yang terjadi.
Hasil transkrip ada juga yang mirip seperti hasil ringkasan sebuah acara/rapat, hasil resume, atau bahkan minuta rapat. Tetapi hasil transkrip ini tidak boleh ada pendapat/opini pribadi dari si penulis transkrip. Jadi betul-betul hanya ringkasan dari hasil acara tersebut dan berdasarkan pada apa-apa yang dibicarakan/diucapkan dalam acara tersebut. Hasil transkrip (dokumen tertulis) ini akan berbeda tergantung kebutuhan dan keinginan dari si pemilik rekaman ini. Misalnya hasil transkrip pelatihan, dipakai untuk melihat gambaran proses pelatihan dan materi yang disampaikan dan materi yang berkembang untuk dijadikan bahan evaluasi, perbaikan modul, pembuatan laporan dan lain sebagainya. Hasil transkrip FGD, seminar atau diskusi bisa dipakai sebagai bahan untuk melihat kembali materi acara dan menarik poin-poin kesepakatan dalam acara tersebut berdasarkan pokok pikiran seluruh pembicaraan pada acara tersebut.
Hasil transkrip video pendidikan, video pelatihan, tutorial bisa dipakai sebagai bahan bacaan bagi si peserta agar lebih mudah mengikuti alur pendidikan dan bagi si pengajar bisa dijadikan sebagai panduan dalam mengajar. Hasil transkrip bisa dijadikan sebagai bukti tertulis otentik tentang suatu hal. Misalnya transkrip sidang skripsi, transkrip sidang pengadilan dan lain sebagainya.
Merekam dan mentranskripkan sebuah acara itu penting agar setiap acara memiliki dokumentasi tertulis selain dokumentasi audio maupun video. Mentranskrip mirip dengan menotulensi tetapi tidak sama. Mentranskrip bisa dilakukan kapan saja dan bisa dimana saja selama bahan untuk ditranskrip ada. Jadi, bisa saja bahan itu bahan yang 1 tahun lalu, atau beberapa bulan lalu. Bahan tersebut kemudian ditranskrip misalnya sebagai antisipasi hilangnya data digital karena kerusakan komputer, kaset berjamur, video berjamur, dan lain sebagainya.
Ada beberapa macam transkripsi mengacu pada Kamus Linguistik Harimurti Kridalakasana (2002: 219). Meskipun sangat kental dengan istilah-istilah linguistik, mengingat pentranskripsian memang dekat dengan kajian ilmu fonetik, pengenalan macam-macam transkripsi berikut ini tentulah menambah wawasan kita. Transkripsi berurutan, yaitu transkripsi fonetis dari teks yang berurutan dan bukan dari kata-kata lepas. Transkripsi fonemis, yaitu transkripsi yang menggunakan satu lambang untuk menggambarkan satu fonem tanpa melihat perbedaan fonetisnya.
Transkripsi fonetis, yaitu transkripsi yang berusaha menggambarkan semua bunyi secara teliti.
Transkripsi kasar, yaitu transkripsi fonetis yang mempergunakan lambang terbatas berdasarkan analisis fonemis yang dipergunakan sebagai sistem aksara yang mudah dibaca.
Transkripsi impresionistis, yaitu transkripsi fonetis dengan lambang sebanyak-banyaknya yang dibuat tanpa pengetahuan mengenai sistem bahasa tertentu; transkripsi semacam ini biasa dibuat pada pengenalan pertama suatu bahasa. Transkripsi ortografis, yaitu transkripsi yang sesuai dengan kaidah-kaidah ejaan suatu bahasa. Transkripsi saksama, yaitu transkripsi fonetis yang secara cermat menggambarkan kontinum wicara. Transkripsi sistematis, yaitu transkripsi fonetis dengan lambang terbatas yang dibuat setelah si penyelidik mengenal bahasanya dan setelah segmen-segmen ujaran diketahui.
Secara garis besar, bentuk transkripsi merupakan bentuk tertulis dari ucapan. Beberapa contoh bentuk transkrip, misalnya transkrip pidato, wawancara, atau keterangan pers. Proses tersebut, sebagaimna disebutkan Shaddily dan Echols, sama halnya dengan mencatat atau menuliskan hasil pembicaraan. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan menuliskan kata demi kata dari suatu sumber untuk keperluan tertentu (biasanya direkam) pada radio perekam dan disalin dalam bentuk tulisan atau ketik. Sebuah cara penulisan dengan meringkas, menyadur, dan mentranskrip, di dalamnya mencakup cara menyajikan sebuah tulisan, pembicaran ke dalam bentuk tertulis yang tersaji secara ringkas. Sebuah bentuk ringkasan dari sebuah tulisan hendaknya tetap menekankan sisi konsistensi akan sebuah urut-urutan sesuai dengan ide atau gagasan pengarang. Begitu halnya saat kita menyadur, hal tersebut juga berlaku -- tetap mempertahankan ide dari naskah asli. Sementara mentranskrip lebih kepada upaya menyajikan sebuah bentuk lisan ke dalam tulisan. Penyajian hasil tulisan dengan ketiga bentuk tersebut ternyata dapat menjadi latihan yang baik bagi kita. Terutama untuk mempertajam pemahaman kita tentang karya asli. Tambahan lagi, kita akan menjadi lebih mencermati apa yang kita baca maupun dengar, tegas Keraf (1984:262) by anindyatrans1@gmail.com
Peran Jasa Penerjemah
Bahasa adalah sebuah sarana untuk masusia saling bertukar informasi satu sama lain. Namun hal tersebut hanya bisa berjalan dengan lancar jika kita bisa memahami bahasa yang dipakai untuk menyampaikan informasi tersebut. Disinilah peran jasa penerjemah sangat dibutuhkan untuk menjembatani perbedaan bahasa sehingga kita bisa membaca sebuah informasi yang berasal dari luar negeri dengan nyaman. Karena alasan itulah banyak berdiri perusahaan jasa penteremah di Indonesia.
Pekerjaan seorang penterjemah bukanlah pekerjaan yang mudah seperti yang selama ini kita bayangkan. Selain penguasaan bahasa asing yang diatas rata-rata, seorang penterjemah yang handal juga harus bisa menguasai berbagai keahlian yang akan menunjang pekerjaannya sebagai seorang penterjemah. Beberapa keahlian tambahan yang biasanya harus dikuasai oleh seseorang sebelum membuka jasa penterjemahan diantaranya adalah:
1. Keahlian Menulis
Seorang penterjemah dituntut untuk bisa menulis dengan baik. Keahlian menulis ini merupakan modal utama selain keahlian bahasa yang harus dikuasai oleh seorang penterjemah. Dengan keahlian menulis yang baik, seorang penterjemah bisa menyampaikan isi dari sebuah teks berbahasa asing ke dalam bahasa yang dituju dengan lancar dan enak dibaca.
2. Keahlian Istilah Dalam Beberapa Cabang Ilmu Pengetahuan
Keahlian selanjutnya yang harus dimiliki oleh seseorang yang berniat untuk membuka jasa penterjemah adalah istilah. Seorang penterjemah harus selalu siap jika mereka diminta untuk menterjemahkan sebuah teks dalam topic tertentu. Beberapa bidang ilmu yang biasanya sering diterjemahkan adalah hukum, bisnis, ekonomi, budaya, teknik, kedokteran, dan lain sebagainya.
3. Pengetahuan Tentang Budaya
Pengetahuan akan budaya asal bahasa asing yang dikuasai sangatlah penting. Pengetahuan akan budaya ini akan mebantu seorang penterjemah dalam membuat sebuah hasil terjemahan yang hidup dan enak dibaca. Kadang ada beberapa kata tidak resmi atau kata-kata slang hingga istilah populer yang tidak membutuhkan kamus melainkan pengetahuan budaya untuk bisa memahaminya.
4. Keahlian Penterjemahan Yang Baik
Keahlian atau teknik penerjemahan adalah ilmu dasar yang harus dikuasai oleh para penterjemah. Pada dasarnya, proses penerjemahan bukan hanya sebuah proses alih bahasa semata namun juga ada transfer makna. Penterjemah yang baik harus bisa mengalih bahasakan sebuah teks dengan bahasa yang sederhana namun tetap tidak mengurangi makna yang terkandung dalam teks tersebut.
permasalahan di jasa penerjemah lisan
Berdasarkan fakta-fakta yang terjadi di lapangan, ternyata, ini seringkali diklaim bahwa jasa penerjemah lisan seringkali jasa penerjemah lisan tidak melakukan tugas sebagai translator yang sangat baik. Sebagai seorang jasa penerjemah lisan, saya secara konstan menggunakan beberapa jalan pintas, ketika menerjemahkan sebaliknya perlu menyelami perasaan untuk coba memahami apa yang dimkasudkan oleh sekumpulan teks atau bekerja kembali mengutarakan atau gaya terjemahan saya. Ini bisa diperdebatkan, pada sisi lain buku induk ini, bahwa jasa penerjemah lisan kurang condong pada melakukan perbaikan terhadap kata spesifik dan cenderung berkonsentrasi pada makna yang dimaksud penulis sebenarnya.
Sepanjang seorang jasa penerjemah lisan terkait, beberapa isu yang muncul saat ini dimana mereka secara konstan harus meraihnya. Bagaimana jika anda berurusan dengan suasana humor atau pengambilan sumpah sebagai contoh? Dalam kedua kasus, isu secara jelas berhubungan dengan bagaimana anda beradaptasi dengan audien anda. Seorang jasa penerjemah lisan yang terkenal berkata: ia menceritakan kepada pendengarnya bahwa seorang pembicara baru saja telah membuat kejutan /lelucon yang tidak diterjemahkan dan mereka seharusnya tertawa untuk tetap membuatnya bahagia. Trik ini biasanya bekerja. Apabila saya bisa, saya lebih suka melakukannya dengan lelucon saya yang menakutkan. Aneh Bukan? Bagaimana kira-kira tanggapan klien saya?
“Jaga lah perasaan, dan suara akan menjadi terkendali.”
Sebagai contoh, ketika pada suatu saat saya menjadi jasa penerjemah lisan pada Pertemuan Tamu dari Prancis pada tahun 2006 lalu di kantor kami. Dari pihak tamu, membawa seorang jasa penerjemah lisan yang bisa menerjemahkan ke bahasa Inggris namun tidak menguasai bahasa Indonesia. Bahasa Inggrisnya cukup baik. Namun jasa penerjemah lisan ini ternyata bersantai-santai setelah istrahat minum kopi dan sekretaris tamu Prancis memberitahukan kepada kami. Ia mengucapkan dengan kata yang bagi saya cukup mengerikan: “ Hongrois [on croIt] que les interprètes hongrois ne sont pas revenus de la pause.” Saya bereaksi dengan berkata: “Are the France jasa penerjemah lisans there? Knock, knock. Anybody home? D’Artagnan?” (sengaja saya ucapkan nama seorang tokoh dalam cerita Three Musketer yang berkebangsaan Prancis). Ucapan itu saya tujukan kepada delegasi tamu Prancis dan Irlandia yang membalasnya dengan tertawa. Saya secara rutin telah bekerja sebagai jasa penerjemah lisan untuk kantor kami dan saya tahu dan dapat beradaptasi dengan beberapa delegasi yang berbahasa Inggris baik usia mereka di bawah atau di atas saya. Dengan kata lain, saya tahu bahwa mereka akan melucu. Selanjutnya , sejak pertemuan itu dilangsungkan selaman tiga atau empat hari, kami bersosialisasi dengan delegasi tersebut. Salah satu kalimat kunci dalam bahasa Prancis adalah “espace de dialogue social.” Terjemahannya dalam bahasa Inggris , yakni “social dialogue structure.” (struktur dialog sosial). Sangat diperlukan bahwa anda harus dapat menanamkan kepercayaan kepada kedua belah pihak bahwa anda memahami maksud mereka dengan baik. Dengan kata lain, semakin sering melakukan jasa penerjemah lisan dibandingkan penerjemahan tulisan, seorang jasa penerjemah lisans bisa mengenal orang-orang dengan siapa ia bekerja dan beradaptasi menurut output yang mereka harapkan.
Dalam kasus pengucapan janji/ sumpah, sesuatu lebih mungkin terjadi ketika orang sedang berbicara dibandingkan ketika mereka sedang menulis, aturan utama bagi jasa penerjemah lisan adalah mengucapkan sesuatu dalam satu tingkatan lebih jelas dan mudah dicerna dibandingkan apa yang diucapkan oleh pembicara . Sekali lagi, singkatnya, ini semua tergantung pada audien.
“Ini akan begitu menyenangkan jika sesuatu merupakan hal yang masuk akal untuk dilakukan perubahan.”
Sama halnya dengan, kita juga bisa memandang masallah dari sis kemauan pembicara. Sebagai contoh jika seseorang pembicara mengucapkan sesuatu yang kurang sopan atau kurang baik di dengar oleh lawan bicaranya yang tidak memahami bahasa si pembicara, , sebagai seorang jasa penerjemah lisan, saya sebaiknya mencoba menyampaikan pesannya dengan sikap yang sopan , meskipun dengan melakukan itu mungkin perlu menerjemahkan agar dapat menghindari bahasa kelompok tertentu/ golongan politik dan setserusnya. Ini akan sama halnya dengan seorang penerjemah tulisan yang terikat pada penulisan teks yang buruk. Meskipun demikian, anda bisa mengalami suatu situasi dimana ia bisa dengan baik dengan maksud agar dapat mencerna bahasa dan memberikan hasil terjemahan lebih baik, namun malahan sikap ini membuat audien merasa bosan dan hanya menghabiskan waktu untuk memastikan audien dan pembicara yang dihadapinya agar tidak mulai mengajukan pertanyaan yang bisa menyulitkannya atau sulit untuk diterjemahkan olehnya.
Ingatlah dengan kondisi yang terlalu berhati-hati ini, akan berbalik menjadi situasi yang tidak menguntungkan dan memojokkan diri anda selaku jasa penerjemah lisan.
Langganan:
Entri (Atom)



